Fabregas Minta Maaf Atas Insiden dengan Allegri dan Bangga Tahan Imbang Milan
Cesc Fabregas menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin yang sportif sekaligus pelatih yang disegani setelah Como sukses menahan imbang raksasa AC Milan 1-1 di San Siro. Mantan maestro lini tengah itu menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada Massimiliano Allegri, meski ia tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas performa I Lariani.
Ketegangan sempat memuncak di pinggir lapangan yang berujung pada kartu merah Allegri, namun bagi Fabregas, fokus utama tetap pada pertumbuhan tim mudanya yang mampu membuat kandidat juara Scudetto tersebut frustrasi.
Permintaan Maaf atas "Sikap Tidak Sportif"
Fabregas tidak mencari alasan terkait insiden yang memicu kemarahan Allegri. Ia mengakui telah melakukan kontak fisik dengan pemain Milan, Alexis Saelemaekers, saat bola masih aktif, tindakan yang menurut Allegri adalah pemicu keributan besar di area teknis.
"Saya meminta maaf sekali lagi," kata Fabregas.
"Saya sudah melakukannya secara terbuka. Saya tidak bangga akan hal itu. Saya telah melakukan sesuatu yang mungkin tidak sportif. Memang benar itu hanya sentuhan kecil, Anda seharusnya tidak melakukannya, terutama kepada seorang pelatih.”
Baca juga: Milan 1-1 Como: Leao Selamatkan Rossoneri dari Kekalahan
"Saya mengerti bahwa dia [Saelemaekers] marah. Saya meminta maaf kepada pelatih [Allegri], saya sudah melakukannya kepada para pemain [Milan] Luka [Modric], [Mike] Maignan dan Saelemaekers. Saya akan belajar dari ini dan saya harap saya tidak akan melakukannya lagi dalam karier saya."
Meskipun laporan menyebutkan adanya adu mulut lanjutan di ruang pers di mana Allegri diduga menyebutnya "anak kecil", Fabregas memilih untuk tetap tenang dan mengakui kesalahannya sebagai bagian dari proses pembelajaran dalam karier kepelatihannya yang masih seumur jagung.
Pujian untuk Como
Beralih ke hasil pertandingan, Fabregas memberikan pujian setinggi langit kepada skuad Como yang tampil disiplin.
Menggunakan sistem tiga bek dan False 9, Como berhasil unggul lebih dulu lewat Nico Paz sebelum akhirnya Rafael Leao menyamakan kedudukan melalui serangan balik cepat.
Fabregas menyoroti betapa tipisnya perbedaan antara kesuksesan dan kegagalan saat menghadapi tim kelas dunia.
"Saya sangat bangga dengan penampilan kuat ini. Kami menunjukkan ketenangan yang luar biasa di atmosfer seperti San Siro," katanya. Namun, ia juga memberikan peringatan keras kepada para pemainnya:
“Itu adalah pertandingan di mana kiper kami baru benar-benar diuji pada menit ke-70, yang menunjukkan betapa bagusnya permainan kami. Kami menunjukkan ketenangan dan fokus yang mengesankan dalam suasana ini, terutama untuk skuad yang masih muda dan kurang berpengalaman,” tambah Fabregas.
“Kami kehilangan bola karena kesalahan konyol dan tahu bahwa ketika kami memberikan terlalu banyak ruang untuk serangan balik melawan pemain kelas dunia, mereka dapat membahayakan kami. Itu praktis satu-satunya saat mereka memainkan bola di belakang kami, tetapi itu menunjukkan level permainan mereka, karena sekali saja Anda tidak sempurna, saat itulah mereka dapat membahayakan Anda.
“Kami hanya bisa berusaha untuk mencapai performa sempurna, yang tentu saja tidak ada, tetapi kami berharap suatu hari nanti dapat mendekatinya.”
Baca juga: Allegri Tak Sesalkan Imbang Lawan Como, Ungkap Perselisihan dengan Fabregas
Kebangkitan Como di Papan Tengah
Hasil imbang ini sangat berarti bagi Como, terutama setelah kekalahan telak dari Fiorentina di laga sebelumnya. Fabregas menekankan bahwa konsistensi adalah kunci jika mereka ingin terus bersaing di papan tengah Serie A.
“Saya sangat bangga dengan penampilan yang kuat ini, sekarang kita perlu mengulanginya lagi pada hari Sabtu jika kita ingin meraih poin di Turin. Kita juga harus fokus di sana. Tim telah membuktikan bahwa dengan cara apa pun, kita tetap mampu menunjukkan performa yang baik, dan penting untuk menampilkan performa ini setelah kekalahan dari Fiorentina,” tambahnya.
“Saya berusaha untuk tidak membicarakan klasemen. Kami menjalani dua bulan yang berat, karena kami tidak terbiasa bermain setiap dua atau tiga hari sekali. Kami melakukannya dengan 17 pemain yang tersedia, jadi kami perlu melakukan rotasi, memiliki pemain dengan stamina prima, pemain yang yakin mereka bisa bermain, itulah mengapa saya tidak memberi tahu mereka sampai menit terakhir siapa yang akan menjadi starter. Saya ingin mereka semua berkonsentrasi dan siap siaga.”