Manajer Juventus, Luciano Spalletti, mengirimkan pesan kuat kepada skuatnya usai hasil imbang 2-2 yang dramatis melawan Lazio di Allianz Stadium. Alih-alih meratapi kegagalan meraih poin penuh, Spalletti justru menantang para pemainnya untuk menikmati tekanan sebagai bagian dari evolusi mereka menjadi tim juara.

Bianconeri menunjukkan karakter luar biasa dengan bangkit dari ketertinggalan dua gol melalui aksi Weston McKennie dan gol penyama kedudukan Pierre Kalulu di masa injury time. Bagi Spalletti, momen-momen sulit seperti inilah yang akan menentukan masa depan proyeknya di Turin.

Tekanan Sebagai Bahan Bakar

Usai laga dramatis tersebut, Spalletti menekankan bahwa mengenakan seragam Juventus berarti harus siap dengan ekspektasi yang menyesakkan.

“Kita harus hidup di bawah tekanan, itulah keindahan sepak bola, ketika Anda harus membalikkan hasil 2-0 di awal babak kedua, padahal itu sama sekali bukan rencana kita,” kata Spalletti. 

Baca juga: Antara Menyesal dan Bersyukur, Sarri Tanggapi Hasil Imbang 2-2 di Markas Juventus

Ia menambahkan bahwa mentalitas menikmati ujian adalah pembeda antara tim yang bagus dan tim yang legendaris. 

“Saat itulah Anda menguji diri sendiri dan melihat apakah Anda mampu mengatasi ketegangan di level tertinggi, itulah yang harus kita nikmati, melihat apakah kita pantas berada di level ini atau tidak,” tambahnya.

“Karakter berarti ketika semuanya berjalan salah dan Anda membutuhkan pikiran jernih untuk membuat pilihan. Itulah yang membuat perbedaan. Tim ini membalikkan situasi yang sangat sulit, menampilkan performa yang luar biasa, jadi kita melangkah maju dengan perasaan yakin.”

Karakter di Balik Kekacauan

Juventus memang tampil dominan dalam penguasaan bola dan mampu melepaskan 34 tembakan, namun mereka sempat terhukum oleh efisiensi Lazio di babak pertama dan awal babak kedua. Spalletti mengakui adanya kesalahan taktis, namun ia lebih fokus pada aspek psikologis anak asuhnya.

Lazio tampil sangat efisien di babak pertama dan awal babak kedua lewat gol Pedro dan Gustav Isaksen. 

Masuknya pemain pengganti seperti Jeremie Boga memberikan dimensi baru yang memungkinkan McKennie (59') dan Kalulu (90+6') mencetak gol balasan.

“Mungkin ini kesalahan dari tuntutan yang kami berikan kepada para pemain ini,” ujar Spalletti.

“Pada periode ini, saya meminta mereka untuk segera memainkan setiap bola yang mereka rebut kembali, bukan untuk menendangnya begitu saja, jadi kita harus mencoba bermain di bawah tekanan, dan menambahkan lebih banyak kualitas pada permainan kita.”

“Yang harus kita kembangkan adalah reaksi tim, performa secara keseluruhan. Ketika tempo meningkat dan kita berjuang untuk mengejar ketertinggalan dua gol, kita tidak boleh meningkatkan tempo hingga menjadi terlalu panik. Kita perlu mempercepat tempo, tetapi tidak sampai kacau, sedangkan hari ini kita sedikit terlalu panik dalam situasi yang seharusnya bisa kita kembangkan dengan lebih baik.”

Baca juga: Luluh Lantak di Bergamo, Spalletti Akui Juventus Salah Langkah

Menatap Masa Depan

Hasil imbang ini memang membuat Juventus sedikit tertahan di peringkat keempat, namun Spalletti melihatnya sebagai modal berharga untuk menghadapi jadwal padat di bulan Maret, termasuk kompetisi Eropa.

“Kesalahan bisa terjadi, Locatelli telah menjadi salah satu pemain terbaik kami musim ini, jadi kehilangan bola sekali tidak merusak segalanya. Bahkan setelah itu, ada cara kami bertahan, bagaimana kami menutup peluang tembakan, dan nasib buruk karena bola memantul. Itulah sepak bola,” ucapnya.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!