Igor Tudor menegaskan bahwa dirinya tidak akan mengubah haluan meskipun Tottenham Hotspur baru saja menelan kekalahan memalukan 1-3 dari Crystal Palace di kandang sendiri. 

Hasil ini merupakan kekalahan kelima beruntun bagi The Lilywhites, yang kini hanya terpaut satu poin dari zona degradasi Premier League.

Tudor Optimis

Suasana di Tottenham Hotspur Stadium berubah menjadi toksik pada Kamis malam waktu setempat. Para pendukung tuan rumah mulai meninggalkan kursi mereka jauh sebelum peluit panjang berbunyi, sementara mereka yang bertahan menyambut tim dengan cemoohan keras. 

Namun, di tengah badai kritik tersebut, Tudor, yang baru ditunjuk sebagai manajer interim bulan lalu, justru mengeluarkan pernyataan yang mengejutkan.

Baca juga: Palace Menang 3-1 atas Tottenham yang Semakin Terpuruk di Jurang Degradasi

"Akan saya katakan sekarang, mungkin kedengarannya aneh, tetapi saya lebih percaya setelah pertandingan ini daripada sebelumnya. Saya melihat sesuatu,” kata Tudor.

“Saya perlu memilih orang-orang yang tepat karena kapal ini berlayar ke arah yang saya inginkan, dan memang harus ke sana, dan siapa pun yang berada di kapal ini boleh tetap tinggal.

“Jika tidak, mereka bisa meninggalkan kapal. Ketika para pemain kembali, saya yakin kita akan memiliki tim yang bagus dan kemenangan akan datang. Tidak mudah menerima momen di mana kita berada sekarang, tetapi memang begitulah adanya.”

Petaka Kartu Merah Micky van de Ven

Padahal, pertandingan sempat menjanjikan bagi tuan rumah ketika Dominic Solanke membawa Spurs unggul pada menit ke-34. Namun, momentum tersebut hancur seketika saat Micky van de Ven menerima kartu merah langsung empat menit kemudian karena melanggar Ismaïla Sarr di kotak penalti.

Eksodus pertahanan Spurs dimulai sejak saat itu. Sarr mengeksekusi penalti dengan sempurna untuk menyamakan kedudukan, sebelum Jørgen Strand Larsen dan gol kedua Sarr memastikan kemenangan Palace sebelum babak pertama usai.

“Sayangnya, inilah saatnya kita membayar segalanya,” ujar Tudor. “Satu kartu merah mengubah segalanya. 

Krisis Kepemimpinan 

Kekalahan ini memperpanjang catatan tanpa kemenangan Tottenham menjadi 11 pertandingan liga, sebuah rekor buruk yang membawa ingatan fans kembali ke tahun 1970-an. Analis sepak bola mulai menunjuk pada hilangnya sosok pemimpin sejak kepergian Son Heung-min ke LAFC musim panas lalu.

Kapten saat ini, Cristian Romero, sering absen karena suspensi, sementara Micky van de Ven, yang mengenakan ban kapten saat melawan Palace, juga diganjar kartu merah. Tanpa pilar yang stabil, skuad muda Spurs tampak rapuh secara mental saat menghadapi tekanan.

Baca juga: Solanke Desak Spurs Tak Cari Alasan usai Dipermalukan Palace

“Saya ingin bersikap positif. Saya tidak bisa mengatakan apa pun kepada para pemain setelah pertandingan ini. Mereka telah memberikan segalanya. Sayangnya, kita harus memperhatikan setiap detail. Jika kita mengatakan bahwa kartu merah hanyalah detail, selalu ada hal yang perlu dibicarakan. Kita harus tetap bersatu sekarang,” ujarnya.

“Ini sangat sulit. Kita harus terus bekerja. Cobalah untuk membantu mereka, karena saya melihat mereka setiap hari, mereka peduli. Jangan membuat kesalahan. Ini adalah kunci pada akhirnya. Masih ada sembilan pertandingan lagi yang harus dimainkan.”

Dengan sisa sembilan pertandingan, jalan Tottenham untuk bertahan di kasta tertinggi terlihat sangat terjal. Ujian berikutnya adalah laga tandang melawan Liverpool di Anfield, sebuah tempat di mana Spurs jarang meraih hasil positif bahkan dalam kondisi terbaik mereka.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!