Manajer Arsenal, Mikel Arteta, melancarkan pembelaan sengit terhadap kritik yang menyebut timnya menggunakan "ilmu hitam" dalam situasi bola mati. Di tengah tuduhan sengaja membuang-buang waktu dan strategi yang dianggap "membosankan", Arteta justru menegaskan rasa frustrasinya karena merasa anak asuhnya seharusnya bisa mencetak lebih banyak gol dari sepak pojok.

Komentar ini muncul setelah kemenangan tipis 2-1 atas Chelsea pada hari Minggu, di mana kedua gol The Gunners lahir dari skema tendangan penjuru yang dilatih khusus oleh asisten pelatih Nicolas Jover. Hasil tersebut membawa Arsenal menyamai rekor Premier League dengan 16 gol dari sepak pojok dalam satu musim, meski liga masih menyisakan sembilan pertandingan lagi.

Pembelaan Arteta

Menjelang laga krusial melawan Brighton & Hove Albion pada Rabu malam, pelatih Brighton, Fabian Hürzeler, sempat menyentil kebiasaan Arsenal yang disebutnya menghabiskan "lebih dari satu menit" hanya untuk mengeksekusi satu tendangan pojok. Menanggapi hal tersebut, Arteta bersikap dingin.

"Itu bagian dari pekerjaan (dikritik)," ujar Arteta dalam konferensi pers hari Selasa. 

Baca juga: Arteta Ungkap Nyaris Jantungan usai Raya Selamatkan Kemenangan Arsenal

“Permainan ini berevolusi dan menjadi semakin sulit. Dulu, ketika Anda membuat rencana permainan dan hanya merotasi bek sayap dan memasukkan pemain tambahan di lini tengah, atau penyerang palsu, lawan akan langsung kalah, keunggulan jumlah pemain, 4 lawan 3 di dalam, 2 lawan 1 di dalam, penguasaan bola yang dominan, 70-80% penguasaan bola, lawan lainnya, dua serangan balik, bola mati, permainan selesai. 

“Sekarang, tim-tim beradaptasi. Tim-tim tahu persis apa yang harus mereka lakukan setelah setiap rangkaian permainan, baik itu lemparan ke dalam atau gaya bermain, situasi permainan terbuka, atau permainan langsung, dan semuanya hampir man-to-man. Jadi, ini akan menjadi permainan yang berbeda kecuali kita mengubah aturan, karena evolusi permainan memang seperti itu.”

Ia juga menepis tuduhan sengaja memperlambat tempo permainan demi hasil semata. Baginya, setiap detik yang dihabiskan adalah bagian dari kalkulasi taktis untuk memaksimalkan peluang gol yang semakin sulit didapat dari permainan mengalir.

Ingin Lebih Banyak Gol

Arteta bahkan mengejutkan awak media dengan menyatakan ketidakpuasannya terhadap produktivitas tim, meski Arsenal saat ini merupakan tim paling subur dari situasi bola mati di Inggris.

“Saya kecewa karena kami tidak mencetak lebih banyak gol dan juga kebobolan. Jadi, kami ingin menjadi tim terbaik dan paling dominan dalam setiap aspek permainan, dan itulah arah dan tujuan tim ini, dan sebagai klub, kami ingin menjadi seperti itu, jadi kami berusaha untuk melakukannya,” lanjutnya.

Pernyataan ini seolah menjadi jawaban telak bagi kritikus seperti Chris Sutton yang menyebut Arsenal akan menjadi juara "paling jelek" jika mereka berhasil mengangkat trofi musim ini melalui ketergantungan pada bola mati.

Baca juga: Desak Arsenal Bidik Quadruple, Saka: Jangan Hanya Terpaku pada Premier League

Fokus ke Amex Stadium

Terlepas dari debat taktik yang memanas, fokus utama Arteta tetap pada mempertahankan keunggulan lima poin di puncak klasemen atas Manchester City. 

Declan Rice dikabarkan siap tampil meski sempat tertatih-tatih saat melawan Chelsea, memberikan tambahan kekuatan bagi Arsenal dalam menghadapi perang urat syaraf dengan Brighton.

Dengan rekor gol yang selangkah lagi akan terpecahkan, publik Emirates nampaknya tidak peduli seberapa buruk gol yang tercipta, asalkan trofi Premier League kembali ke London Utara setelah dua dekade.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!