Kembali ke BayArena bukan sekadar urusan profesional bagi Kai Havertz; ini adalah sebuah perjalanan emosional bagi pemain yang baru saja melewati titik terendah dalam hidupnya. Menjelang laga leg pertama babak 16 besar Liga Champions melawan mantan klubnya, Bayer Leverkusen, bintang internasional Jerman tersebut membuka diri mengenai penderitaan panjang yang sempat mengancam musimnya.

Havertz, yang terpaksa menepi selama paruh pertama musim 2025-26 akibat cedera lutut parah, menyebut periode rehabilitasi tersebut sebagai pengalaman paling menyakitkan yang pernah ia alami, baik secara fisik maupun mental.

Masa Kelam di Ruang Perawatan

Cedera ligamen lutut yang diderita Havertz pada awal musim 2025-26 sempat dianggap sebagai pukulan telak bagi ambisi juara Arsenal. Tanpa kehadirannya, Mikel Arteta terpaksa merombak lini depan dengan mengandalkan Viktor Gyökeres dan Mikel Merino.

“Bagi saya itu sangat sulit karena saya belum pernah merasakan sakit seperti itu sebelumnya dalam hidup saya dan itu datang tiba-tiba,” katanya.

Baca juga: Arteta Desak Arsenal Belajar dari Pengalaman Musim Lalu Saat Hadapi Leverkusen

“Jelas menjalani dua operasi bukanlah hal yang mudah, tetapi saya pikir saya cukup profesional untuk mengetahui bahwa itu juga bagian dari sepak bola dan saya tahu bahwa ada begitu banyak pemain di luar sana yang juga mengalami hal serupa dalam karier mereka. Saya masih muda jadi semoga masih banyak tahun di depan saya, tetapi jelas secara mental itu sulit.

Namun, di balik rasa sakit itu, Havertz menemukan perspektif baru. “Saya percaya diri, saya merasa baik, saya merasa lebih baik, jelas hal-hal selalu bisa terjadi, tetapi saya merasa 100% siap untuk bermain, saya merasa bugar dan saya tidak sabar untuk membantu tim dalam beberapa bulan ke depan,” tambahnya.

Kembalinya Havertz

Sejak kembali ke skuat utama, Havertz telah menunjukkan performa impresif, mencetak gol saat melawan Kairat Almaty di fase liga dan mencetak gol penentu melawan mantan timnya Chelsea di leg kedua semifinal Carabao Cup. 

Kini, dengan Arsenal yang masih bersaing di empat kompetisi berbeda (quadruple), kehadiran Havertz menjadi suntikan tenaga yang vital.

Baca juga: Bela Arteta, Rooney Sebut Kritik Terhadap Gaya Main Arsenal Tidak Adil

Ketika ditanya apakah menjadi penonton yang frustrasi begitu lama telah memberinya keinginan yang lebih besar untuk sukses, Havertz berkata, “100%, menurut saya. Perasaan yang Anda rasakan setelah pertandingan, berada bersama para pemain di ruang latihan, saya sangat merindukannya. Itulah mengapa secara mental juga sangat sulit bagi saya karena mereka tidak akan ada di sana dan saya pikir itu hanya memberi saya rasa lapar yang baru.”

Kepulangan Havertz ke Leverkusen pekan ini menjadi panggung sempurna untuk membuktikan transformasinya. Arsenal mengincar hasil positif di leg pertama untuk mempermudah jalan menuju perempat final, mengulang kesuksesan musim lalu saat mereka berhasil mencapai babak semifinal.

Arsenal akan mengandalkan rasa lapar Havertz untuk menembus pertahanan disiplin Leverkusen asuhan Kasper Hjulmand pada Kamis dini hari WIB, dalam langkah awal mereka mengulang, atau melampaui, pencapaian semifinal musim lalu.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!