Chivu Akui Inter Kurang Kompetitif di Eropa, Sebut Bodo/Glimt Layak Lolos
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, memberikan analisis jujur yang pahit setelah timnya secara mengejutkan tersingkir dari UEFA Champions League 2025/26. Berbicara usai kekalahan 1–2 dari Bodo/Glimt di San Siro pada Rabu dini hari tadi, Chivu mengakui bahwa wakil Norwegia tersebut tampil lebih berenergi dibandingkan pasukannya.
Kekalahan di hadapan publik sendiri memastikan Inter tersingkir dengan agregat telak 5–2. Bagi Chivu, hasil ini merupakan kenyataan pahit yang menunjukkan bahwa Nerazzurri belum cukup kompetitif untuk bersaing di level tertinggi Eropa musim ini, meskipun mereka sedang mendominasi kompetisi domestik.
Perbedaan Level Energi
Salah satu poin utama yang disoroti Chivu adalah kondisi fisik kedua tim. Bodo/Glimt, yang saat ini hanya fokus pada kompetisi Eropa karena liga domestik Norwegia sedang dalam masa jeda, tampil jauh lebih bertenaga sepanjang 90 menit.
Baca juga: Singkirkan Inter Milan di San Siro, Bodo/Glimt Tembus 16 Besar UCL
Chivu juga menambahkan bahwa kesalahan individu, seperti kesalahan operan Manuel Akanji yang berujung pada gol pembuka Jens Petter Hauge, adalah bukti dari kurangnya ketajaman mental akibat kelelahan jadwal yang padat.
“Saya tidak punya alasan untuk menyalahkan para pemain saya, karena mereka telah berusaha sekuat tenaga, dan di babak kedua Bodo memiliki energi yang jauh lebih besar daripada kami,” kata Chivu.
“Kami telah memberikan semua yang kami miliki, mencoba memecah kebuntuan dengan segala cara, tetapi setelah jeda mereka mencetak dua gol.”
“Ada banyak kekecewaan, karena sayangnya kami melawan tim yang memiliki energi jauh lebih besar daripada kami, mereka sangat terorganisir, tahu apa yang harus mereka lakukan setelah hasil 3-1 di leg pertama dan melakukannya dengan brilian.”
“Kami hanya bisa mengucapkan selamat kepada Bodo/Glimt, mereka adalah tim yang pantas berada di babak selanjutnya.”
Tidak Cukup Kompetitif
Meski Inter saat ini kokoh di puncak klasemen Serie A dengan keunggulan 10 poin, Chivu tidak mencari alasan di balik kegagalan timnya.
Ia secara terbuka mengakui bahwa performa Inter di kancah kontinental musim ini jauh dari standar yang diharapkan untuk tim sebesar Inter.
“Tujuan kami adalah untuk bersaing, kami selalu mengatakan itu, dan kami tidak pernah bermaksud untuk berpikir terlalu jauh ke depan tentang hal-hal yang tidak dapat kami kendalikan,” tambah Chivu.
“Sayangnya, kami tidak mampu bersaing secara kompetitif di Liga Champions. Kami memulai dengan baik dan memenangkan empat pertandingan berturut-turut, kemudian sayangnya kami kehilangan beberapa poin meskipun tampil bagus.”
Baca juga: Barella Berlapang Dada, Akui Bodo/Glimt Layak Lolos dan Fokus Raih Scudetto
“Levelnya sangat tinggi di sini, jika Anda tidak berhasil memanfaatkan peluang dan membuat pilihan yang tepat, Anda akan dihukum pada kesalahan pertama.”
Mengecewakan di San Siro
Meskipun mendominasi jalannya pertandingan dengan 70% penguasaan bola dan melepaskan 33 tembakan, Inter hanya mampu mencetak satu gol melalui sundulan Alessandro Bastoni di menit-menit akhir.
Ketidakmampuan lini depan yang dipimpin Marcus Thuram dan pemain muda Pio Esposito untuk menaklukkan kiper Nikita Haikin menjadi sorotan utama, terutama dengan absennya kapten utama Lautaro Martinez yang dibekap cedera serius.
Dengan tersingkirnya Inter dari Eropa, Chivu kini menuntut reaksi cepat dari anak asuhnya untuk mengunci gelar Scudetto secepat mungkin.
“Ada kekecewaan besar, karena kami ingin setidaknya bersaing secara kompetitif di Eropa,” jelasnya.
“Kita harus melupakan kekalahan ini, kita akan terus maju, ini Liga Champions, kita harus memberikan penghargaan kepada lawan kita dan apa yang telah mereka capai.”