Harapan Barcelona untuk merengkuh kejayaan di Liga Champions musim 2025-26 berakhir dengan kemarahan yang meluap-luap. Meski berhasil memenangkan leg kedua dengan skor 2-1 melawan Atletico Madrid di Riyadh Air Metropolitano tadi malam, raksasa Catalan itu harus tersingkir dengan agregat 3-2. Kekalahan ini pun memancing serangan pedas dari penyerang Barca, Raphinha, terhadap kepemimpinan wasit.

Bintang asal Brasil tersebut, yang terpaksa absen di kedua leg karena cedera namun hadir memberikan dukungan di Madrid, tidak menahan diri saat berbicara. Ia melabeli kegagalan timnya sebagai sebuah perampokan terencana.

"Mereka Takut Barcelona Lolos"

Kekesalan Raphinha bersumber dari fakta bahwa Barcelona harus menyelesaikan kedua leg perempat final dengan 10 pemain. Setelah Pau Cubarsí diusir keluar lapangan pada leg pertama, giliran Eric García yang menerima kartu merah di menit-menit krusial leg kedua karena menjatuhkan Alexander Sørloth.

"Menurut saya, ini adalah perampokan, bukan hanya pertandingan ini tetapi juga pertandingan lainnya (leg pertama)," kata Raphinha.

Baca juga: Atletico Melaju ke Semifinal Meski Tumbang, Upaya Heroik Barcelona Kandas

"Saya pikir wasitnya sangat buruk; keputusan yang dia buat sungguh tidak masuk akal... Saya benar-benar ingin memahami mengapa mereka begitu takut Barcelona akan datang dan menang."

Raphinha juga menyoroti ketimpangan hukuman disiplin, di mana Atletico mencatatkan 15 pelanggaran di leg kedua tanpa menerima satu pun kartu kuning, sementara Barca langsung diganjar kartu merah pada pelanggaran fatal pertama mereka.

Deja Vu Kartu Merah

Pertandingan ini sebenarnya dimulai dengan harapan besar bagi tim asuhan Hansi Flick. Lamine Yamal mencetak gol cepat di menit keempat, disusul oleh gol Ferran Torres pada menit ke-24 yang sempat menyamakan agregat menjadi 2-2. 

Namun, gol balasan dari Ademola Lookman di menit ke-31 kembali memberikan keunggulan bagi pasukan Diego Simeone.

Drama mencapai puncaknya saat gol ketiga Ferran Torres dianulir karena offside, dan disusul pengusiran Eric García oleh wasit Clément Turpin setelah tinjauan VAR. Bagi Barca, ini adalah ulangan menyakitkan dari insiden kartu merah Pau Cubarsí di leg pertama yang dipimpin oleh István Kovács.

Protes yang Diabaikan

Kemarahan manajemen Barcelona sebenarnya sudah mendidih sejak leg pertama. Klub kabarnya sempat mengajukan keluhan resmi kepada UEFA terkait insiden handball Marc Pubill di area penalti yang diabaikan oleh wasit Kovács, namun protes tersebut ditolak mentah-mentah.

Baca juga: Cari Inspirasi dari LeBron, Yamal Yakin Barcelona Bisa Comeback Lawan Atletico

Setelah pertandingan, pemain internasional Brasil itu memberi isyarat ke arah para penggemar tuan rumah dan sepertinya mengisyaratkan bahwa mereka akan tersingkir di semifinal.

"Itu sulit, terutama ketika Anda menyadari bahwa Anda harus bekerja tiga kali lebih keras untuk memenangkan pertandingan," tambah Raphinha.

"Saya pikir hasil imbang ini cukup menyesatkan, menurut saya. Saya pikir setiap orang bisa membuat kesalahan; setiap orang adalah manusia. Tetapi ketika kesalahan terus berulang dengan cara yang persis sama, saya pikir itu adalah sesuatu yang perlu kita perhatikan."

Sementara Atletico merayakan keberhasilan mereka mencapai semifinal pertama sejak 2017, Barcelona pulang ke Spanyol dengan luka yang dalam. Bagi Raphinha dan rekan-rekannya, tersingkirnya mereka bukan karena kalah kualitas, melainkan karena merasa "dirampok" di panggung terbesar Eropa.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!