Gabriele Gravina, Presiden FIGC yang akan segera menanggalkan jabatannya, akhirnya memecah keheningan di tengah badai kritik yang menerpa sepak bola Italia. Gravina menanggapi spekulasi liar mengenai peluang Italia tampil di Piala Dunia 2026 menggantikan Iran, sembari menegaskan bahwa dirinya tidak merasa gagal meski Azzurri absen untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.  

Italia baru saja menelan pil pahit setelah disingkirkan Bosnia-Herzegovina lewat adu penalti di babak play-off Maret lalu. Kegagalan ini memicu pengunduran diri Gravina, yang secara resmi akan meninggalkan jabatannya pada akhir Juni mendatang.  

Tolak Gantikan Iran

Beberapa pekan terakhir, muncul rumor dari lingkaran diplomatik Amerika Serikat yang mengusulkan agar Italia ditunjuk sebagai pengganti Iran, mengingat situasi geopolitik yang memanas. Namun, Gravina dengan tegas menolak gagasan tersebut.  

Baca juga: Italia Tolak Mentah-Mentah Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia

"Gagasan kembalinya Italia melalui jalur repechage tampak bagi saya sebagai ide yang mengada-ada dan memalukan," tegas Gravina. "Mereka bernegosiasi berdasarkan gairah para penggemar Italia. Padahal, para pendukung Azzurri adalah satu-satunya pihak yang sebenarnya layak pergi ke Piala Dunia, bukan tim yang gagal di lapangan."

"Saya Tidak Gagal"

Meski mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawab atas kegagalan skuat asuhan Gennaro Gattuso, Gravina bersikeras bahwa masa jabatannya selama delapan tahun tidak boleh dinilai hanya dari hasil satu pertandingan.

“Saya rasa saya tidak gagal,” tegas Gravina. “Jika kita berbicara tentang insiden kecil, tentu saja saya gagal, tetapi jika kita ingin berbicara tentang aktivitas dalam segala bentuknya dan semua proyek yang telah kita laksanakan, federasi kita termasuk yang paling dihargai di Eropa dan di dunia.

“Orang Italia membebankan tanggung jawab kepada FIGC yang sebenarnya tidak mereka miliki. Ada kebingungan tentang peran masing-masing. Kita belum pernah lolos ke Piala Dunia tiga kali dan polanya selalu sama, mencari kambing hitam. Semua orang yakin bahwa para pemain tim nasional bergantung pada FIGC, tetapi ada liga, kompetisi, dan aturan serta hukum tertentu yang harus dihormati.

Baca juga: Italia Krisis Identitas, Gullit: Main Bertahan Saja, Tak Usah Tiki-Taka

“Kita mengevaluasi pekerjaan yang dilakukan federasi berdasarkan satu tim nasional saja, padahal ada banyak tim nasional, baik putra maupun putri.”

Masa Depan FIGC

Pengunduran diri Gravina, bersama dengan mundurnya Gianluigi Buffon dari peran delegasi tim nasional, menandai akhir dari sebuah era. Sementara publik Italia mulai meneriakkan nama-nama seperti Roberto Baggio atau Paolo Maldini untuk mengambil alih kemudi federasi, Gravina tetap yakin bahwa fondasi yang ia tinggalkan sudah kuat.

Sembari menunggu pemilihan presiden baru yang dijadwalkan pada 22 Juni mendatang, dengan Giovanni Malagò dan Giancarlo Abete sebagai kandidat kuat, Gravina memperingatkan agar sepak bola Italia tidak dijadikan kambing hitam oleh pihak politik.  

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!