Maestro taktik legendaris Italia, Fabio Capello, mengeluarkan kecaman keras menyusul kegagalan memalukan tim nasional Italia melaju ke Piala Dunia 2026. Mantan pelatih AC Milan dan Real Madrid itu melabeli kekalahan adu penalti dari Bosnia-Herzegovina sebagai aib nasional yang tidak bisa dimaafkan.

Capello, yang dikenal dengan opininya yang tajam dan tanpa kompromi, menegaskan bahwa tersingkirnya Azzurri untuk ketiga kalinya secara berturut-turut bukan sekadar kegagalan teknis, melainkan bukti nyata dari keruntuhan sistemik sepak bola Italia.

Malam Kelam di Zenica

Langkah Italia menuju Piala Dunia 2026 harus terhenti di bawah guyuran hujan Zenica. Skuad Azzurri yang bermain dengan 10 orang di bawah asuhan Gennaro Gattuso runtuh di bawah tekanan hebat. 

Baca juga: Italia Gagal ke Piala Dunia, Gattuso Minta Maaf dan Bungkam Soal Masa Depannya

Meski sempat unggul lebih dulu lewat gol Moise Kean, kartu merah langsung yang diterima Alessandro Bastoni mengubah arah pertandingan. Bosnia menyamakan kedudukan pada menit ke-79, dan kekalahan 4-1 di babak adu penalti memastikan bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah, juara dunia empat kali akan absen dalam tiga turnamen beruntun.

“Saya tidak bisa tidur sepanjang malam, saya masih tidak percaya apa yang terjadi,” kata Capello kepada Marca. “Kita berbicara tentang juara dunia empat kali. Ini adalah tragedi olahraga, sebuah aib. Ini adalah salah satu hal terburuk yang pernah terjadi pada sepak bola Italia dalam sejarahnya baru-baru ini.”

Tuntutan Tanggung Jawab

Meskipun banyak kemarahan publik yang langsung diarahkan pada taktik Gattuso atau kegagalan penalti dari Pio Esposito dan Bryan Cristante, Capello justru mengarahkan bidikannya ke kursi petinggi federasi. 

Ia menyatakan ketidakpercayaannya bahwa dalam 48 jam setelah bencana di Zenica, hierarki Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) masih tetap menduduki jabatan mereka.

"Tidak ada yang mengundurkan diri di sini, dan itulah hal yang paling mengkhawatirkan. Orang pertama yang harus bertanggung jawab adalah presiden federasi, bersama dengan seluruh jajaran kepemimpinan."

Penilaian Capello menunjukkan bahwa kegagalan ini bukan sekadar masalah nasib buruk atau satu kartu merah saja, melainkan pembusukan sistemik yang membuat negara tersebut absen dari panggung dunia sejak 2014.

Kerusakan Struktural

Statistik memang mendukung pandangan suram Capello. Seluruh generasi anak-anak Italia akan tumbuh besar tanpa pernah melihat tim nasional mereka bermain di pertandingan Piala Dunia. Sejak mengangkat trofi pada tahun 2006, Azzurri bahkan belum memenangkan satu pun pertandingan sistem gugur di kompetisi tersebut.

Baca juga: Italia Gagal Tembus Tiga Piala Dunia, Gravina Ogah Mundur Sebagai Presiden FIGC

“Ini bukan hanya tentang hasil, tetapi juga struktural,” tambahnya. “Italia perlu menemukan jati dirinya kembali. Kita harus mengumpulkan para ahli, menganalisis apa yang terjadi, dan memulai rekonstruksi dari fondasinya. Akan sangat sulit untuk pulih dari ini, tetapi saya yakin ini akan menjadi awal dari pembaruan yang sejati.”

Jalan Panjang ke Depan

Di saat kepemimpinan FIGC masih bungkam, tekanan dari publik Italia dan legenda seperti Capello terus meningkat. Dengan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko yang akan tetap berjalan tanpa salah satu peserta paling bersejarahnya.

Bagi Capello, jawabannya sudah sangat jelas: pengurus lama harus pergi untuk memberi ruang bagi pembaruan sebelum empat bintang di lambang Italia kehilangan cahayanya sama sekali.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!