Manajer Juventus, Luciano Spalletti, tidak mencari alasan setelah timnya tersingkir secara memalukan dari perempat final Coppa Italia. Berbicara setelah peluit panjang dibunyikan, sang pelatih memberikan penilaian yang jujur sekaligus tajam atas kekalahan telak 0-3 dari Atalanta pada Jumat dini hari WIB.

Spalletti mengakui bahwa jurang pemisah antara kedua tim dalam laga tersebut bukanlah pada penguasaan bola, melainkan pada ketajaman pengambilan keputusan di momen-momen krusial.

Perbedaan di Kotak Penalti

Meskipun statistik menunjukkan Juventus memegang kendali permainan di lini tengah, efektivitas di depan gawang menjadi pembeda yang kontras. 

Baca juga: Coppa Italia: Atalanta Hancurkan Juventus 3-0 dan Melaju ke Semifinal

Spalletti menyoroti bagaimana Atalanta mampu mengeksekusi rencana permainan mereka dengan sempurna, sementara anak asuhnya justru terlihat bingung saat memasuki area sepertiga akhir.

“Mereka lebih baik dari kami di momen-momen krusial pertandingan. Saat mengomentari kekalahan 3-0, tidak banyak yang bisa dikatakan. Kami mengucapkan selamat kepada Palladino dan Atalanta, mereka adalah tim yang solid dan memainkan sepak bola yang bagus,” kata Spalletti kepada Sport Mediaset.

“Kami membuat pilihan yang salah ketika keadaan menjadi sulit. Ada saat-saat di mana bola bergerak bebas dan sebagian besar tentang statistik, tetapi ketika pertandingan menjadi nyata, Anda harus membuat keputusan yang tepat, melakukannya dengan cepat dan tepat. Pada saat-saat itu, kami membuat pilihan yang salah, mereka membuat pilihan yang tepat.”

Gol pembuka dari titik putih oleh Gianluca Scamacca di babak pertama dianggap Spalletti sebagai awal dari hilangnya ketenangan skuad Bianconeri. Menurutnya, setelah tertinggal, timnya justru kehilangan bentuk permainan dan memberikan ruang yang terlalu luas bagi Atalanta untuk melakukan serangan balik.

Kritik untuk Lini Pertahanan dan Mentalitas

Spalletti secara khusus merasa kecewa dengan cara Juventus kebobolan dua gol tambahan di 15 menit terakhir pertandingan. Gol dari Kamaldeen Sulemana dan Mario Pasalic lahir dari situasi di mana lini belakang Juventus gagal menutup celah saat transisi negatif.

“Meningkatnya level permainan juga bergantung pada cara seluruh tim berlatih. Kami memiliki beberapa kekurangan, seperti banyak tim lainnya, tetapi saya merasa kami adalah sebuah tim. Kami hanya perlu mengenali momen-momen penting dalam pertandingan yang dapat menjadi penentu, karena jika Anda melihat jumlah peluang dalam pertandingan ini, hasilnya tampak seperti cerminan yang salah,” kata Spalletti.

“Kami kalah 3-0, jadi rasanya aneh untuk mengatakan para pemain bekerja keras dan menampilkan performa yang bagus. Yang tidak saya sukai adalah di tahap akhir pertandingan kami semua terpecah dan mencoba mencari terobosan secara individu, sehingga kami kehilangan terlalu banyak organisasi. Kami kehilangan sebagian kesatuan.”

Bagi Spalletti, kekalahan ini menjadi sinyal peringatan keras bahwa dominasi nama besar tidak lagi cukup untuk memenangkan pertandingan di kompetisi seketat Coppa Italia jika tidak dibarengi dengan presisi taktis.

Baca juga: Alessandro Del Piero Percaya Juventus Bisa Kejar Scudetto

Fokus Kembali ke Serie A

Tersingkirnya Juventus dari Coppa Italia membuat satu pintu gelar juara tertutup musim ini. Kini, Spalletti dituntut untuk segera memulihkan moral pasukannya guna menjaga peluang di Serie A dan kompetisi Eropa.

Kekalahan 0-3 ini tercatat sebagai salah satu kekalahan tandang terburuk Juventus di ajang Coppa Italia dalam satu dekade terakhir, sekaligus menegaskan bahwa tangan dingin Raffaele Palladino di Atalanta benar-benar menjadi momok bagi strategi Spalletti malam ini.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!