Italia Gagal Tembus Tiga Piala Dunia, Gravina Ogah Mundur Sebagai Presiden FIGC
Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, secara resmi mengonfirmasi bahwa ia tidak akan mengundurkan diri dari jabatannya menyusul kegagalan tragis Italia lolos ke Piala Dunia 2026. Dalam pernyataan yang memicu perdebatan panas di seluruh negeri, Gravina justru menegaskan telah meminta Gennaro Gattuso dan Gianluigi Buffon untuk tetap menduduki posisi mereka di staf kepelatihan Azzurri.
Seperti yang diketahui, Italia dipastikan absen dari panggung dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, sebuah catatan hitam yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bola Italia. Kekalahan adu penalti dari Bosnia-Herzegovina di Zenica telah memicu gelombang tuntutan agar terjadi perombakan total di jajaran petinggi federasi, namun Gravina memilih untuk bertahan di posisinya.
Ogah Mengundurkan Diri
Setelah laga memalukan tersebut, Gravina menegaskan bahwa melarikan diri dari tanggung jawab saat ini bukanlah solusi bagi krisis yang melanda sepak bola Italia. Ia berargumen bahwa stabilitas lebih dibutuhkan daripada kekosongan kekuasaan yang mendadak.
Baca juga: Italia Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun usai Kalah Adu Penalti Lawan Bosnia
“Ada Dewan Federal, saya sudah memutuskan untuk mengadakan pertemuan minggu depan, dan di situlah akan ada evaluasi. Saya mengerti bahwa orang-orang akan menyerukan pengunduran diri saya, tetapi ada situasi yang tepat untuk melakukan itu,” kata Gravina.
“Minggu depan kita akan melakukan refleksi yang lebih mendalam tentang situasi ini, karena pertanyaan yang Anda ajukan membutuhkan tempat yang tepat untuk menjawabnya. FIGC harus memutuskan bagaimana memilih dan membangun timnya. Kita hanya bisa melakukan apa yang kita miliki di liga.”
Gravina mengakui bahwa kegagalan di Zenica adalah pukulan telak, namun ia menyoroti performa tim yang bermain dengan 10 orang selama lebih dari satu jam sebagai bukti adanya karakter yang sedang dibangun di bawah asuhan Gattuso.
Dukungan Penuh untuk Gattuso dan Buffon
Alih-alih mencari kambing hitam di lapangan, Gravina justru memberikan kepercayaan kepada Gennaro Gattuso sebagai pelatih kepala dan Gianluigi Buffon sebagai Kepala Delegasi.
“Kondisi mental kami cukup jelas, terutama mengingat bagaimana hasil pertandingan ini berkembang,” ujar Gravina.
Baca juga: Italia Gagal ke Piala Dunia, Gattuso Minta Maaf dan Bungkam Soal Masa Depannya
“Izinkan saya memuji para pemain, yang telah berkembang pesat dalam beberapa bulan terakhir. Banyak dari Anda tidak dapat sepenuhnya menghargai atmosfer yang tercipta belakangan ini.
“Kami ingin memberikan kegembiraan kepada para penggemar kami, dan saya ingin memuji Rino Gattuso. Dia adalah pelatih hebat, saya memintanya untuk tetap bersama Gigi Buffon, memimpin tim ini.”
Gattuso sendiri sebelumnya sempat bungkam mengenai masa depannya, sementara Buffon memberikan sinyal bahwa mereka akan tetap berada di bangku cadangan setidaknya hingga bulan Juni untuk membantu federasi dalam masa transisi.
Gelombang Protes dan Tekanan Politik
Keputusan Gravina untuk tetap menjabat memicu reaksi keras dari berbagai kalangan. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, mengatakan sepak bola Italia perlu dibangun kembali, sebuah proses yang harus dimulai dengan pembaharuan kepemimpinan FIGC.
Ia juga menyerukan perubahan drastis dalam sepak bola Italia setelah kekecewaan Piala Dunia lainnya.
“Saya berterima kasih kepada tim dan pelatih atas komitmen yang mereka tunjukkan tadi malam, tetapi jelas bahwa sepak bola Italia perlu dibangun kembali, dan proses ini harus dimulai dengan pembaharuan kepemimpinan FIGC,” kata Abodi dalam sebuah pernyataan.
Baca juga: Beri Waktu FIGC Evaluasi Krisis, Buffon: Gattuso dan Saya Bertahan Hingga Juni
“Sepak bola adalah olahraga, dan di masa krisis militer dan ekonomi seperti ini, seharusnya tidak dibebani dengan makna yang berlebihan. Di sisi lain, tidak dapat disangkal bahwa sepak bola lebih dari sekadar olahraga, terutama di Italia, di mana sepak bola telah menjadi bagian dari budaya populer, ritual komunal, dan sumber prestise internasional.”
Kekalahan ini menandai titik nadir bagi sepak bola Italia. Sejak mengangkat trofi di Berlin pada 2006, Italia belum pernah lagi mencicipi babak gugur Piala Dunia.
Sebuah generasi pemain berbakat seperti Nicolò Barella dan Gianluigi Donnarumma terancam mengakhiri karier tanpa pernah merasakan atmosfer turnamen sepak bola terbesar di planet ini.