Di bawah atmosfer panas Stadion Bilino Polje, Gennaro Gattuso berdiri dengan mata berkaca-kaca, mencoba merangkai kata di tengah reruntuhan ambisi sepak bola Italia. Setelah kekalahan adu penalti 4-1 yang menyakitkan dari Bosnia-Herzegovina, sang pelatih tidak mampu menyembunyikan emosinya saat harus mengakui bahwa Azzurri akan absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Italia sebenarnya sempat memimpin melalui gol Moise Kean, namun kartu merah Alessandro Bastoni di menit ke-41 mengubah jalannya sejarah. Meski bertahan mati-matian dengan 10 pemain hingga babak tambahan waktu berakhir 1-1, kegagalan di titik putih memastikan Italia harus menunggu setidaknya tahun 2030 untuk bermain di turnamen akbar tersebut.

Permintaan Maaf yang Emosional

Usai laga, Gattuso secara terbuka meminta maaf kepada seluruh rakyat Italia atas kegagalan ini, namun tetap membela habis-habisan perjuangan anak asuhnya.

“Para pemain ini tidak pantas menerima ini, atas usaha, cinta, dan tekad mereka. Kami memiliki tiga peluang, dan sebagian besar umpan silang mereka hampir tidak menyentuh kami,” kata Gattuso kepada RAI Sport.

Baca juga: Italia Gagal Lolos Piala Dunia Tiga Kali Beruntun usai Kalah Adu Penalti Lawan Bosnia

“Saya tetap bangga dengan para pemain saya. Jika Anda menusuk saya dengan belati hari ini, tidak akan ada yang keluar, darah saya sudah habis. Ini penting bagi gerakan sepak bola Italia dan rasanya buruk harus tersingkir seperti ini.”

Gattuso menekankan bahwa bermain dengan 10 orang melawan tim Bosnia di kandang mereka adalah tugas yang hampir mustahil. Namun, ia tetap bangga dengan karakter yang ditunjukkan timnya hingga detik terakhir.

“Saya juga terkejut dengan semangat dan tekad yang mereka tunjukkan hari ini. Kami berada di sana dalam pengepungan. Namun di sini kita berbicara tentang tidak lolos ke Piala Dunia lagi,” tambahnya.

“Saya pribadi meminta maaf karena tidak berhasil, tetapi para pemain ini telah memberikan segalanya.”

Bungkam Mengenai Masa Depan

Meskipun kontraknya secara teknis berakhir setelah kegagalan kualifikasi ini, Gattuso dengan tegas menolak untuk membahas apakah ia akan tetap memimpin timnas Italia atau mengundurkan diri. Ketegangan sempat memuncak saat ia ditanya mengenai posisinya oleh wartawan.

"Saat ini membicarakan masa depan saya tidak penting, yang penting adalah pergi ke Piala Dunia," jawabnya.

"Kami berpegang pada penampilan ini, tetapi ini menyakitkan dan saya minta maaf."

Sikap Gattuso ini muncul di tengah laporan bahwa Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, telah secara pribadi memintanya untuk tetap bertahan. Gravina dan manajer tim, Gianluigi Buffon, kabarnya masih memiliki kepercayaan penuh pada proyek yang dibangun Gattuso sejak menggantikan Luciano Spalletti tahun lalu.

Baca juga: Gattuso Tak Gentar dengan Kondisi Lapangan Lawan Bosnia

Krisis Struktural yang Mendalam

Kegagalan ini menempatkan Italia dalam catatan sejarah yang kelam: mereka menjadi mantan juara dunia pertama yang absen di tiga edisi Piala Dunia secara beruntun (2018, 2022, 2026). Sejak mengangkat trofi di Berlin 20 tahun lalu, Italia hanya memenangkan satu pertandingan di putaran final Piala Dunia.

Bagi para pemain seperti Nicolò Barella dan Gianluigi Donnarumma, hasil di Zenica ini adalah pukulan telak bagi warisan karier internasional mereka. Italia kini harus menghadapi periode refleksi yang panjang dan menyakitkan, sementara Bosnia-Herzegovina bersiap merayakan kelolosan bersejarah mereka ke Amerika Utara.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!