Ange Postecoglou Bongkar Borok Tottenham Usai Pemecatan Thomas Frank
Mantan manajer Tottenham Hotspur, Ange Postecoglou, melontarkan kritik pedas yang mengguncang jagat sepak bola Inggris. Dalam sebuah wawancara eksklusif di podcast Stick to Football yang dirilis Kamis (12/2), pria asal Australia tersebut secara blak-blakan menyebut Tottenham sebagai bukan klub besar dalam hal kebijakan finansial dan ambisi transfer.
Pernyataan "Big Ange" ini muncul hanya berselang 24 jam setelah manajemen Spurs resmi memecat suksesornya, Thomas Frank, yang hanya bertahan delapan bulan di London Utara. Thomas Frank didepak setelah rentetan hasil buruk yang membuat klub terjerembab di posisi ke-16 klasemen Premier League, hanya lima poin di atas zona degradasi.
Kritik Tajam Big Ange
Postecoglou, yang membawa Spurs menjuarai Europa League 2025 sebelum dipecat musim panas lalu, mengekspresikan kekecewaannya terhadap ketimpangan antara citra publik klub dengan realitas di balik layar.
Menurutnya, meskipun Spurs memiliki stadion dan fasilitas latihan terbaik di dunia, mereka tidak bertindak layaknya tim raksasa saat jendela transfer dibuka.
"Banyak yang melihat stadion mewah itu, tapi jika Anda melihat pengeluaran dan struktur gaji mereka, mereka bukanlah klub besar," ujar Postecoglou kepada Gary Neville dkk.
Baca juga: Tottenham Hotspur Resmi Pecat Thomas Frank
"Saya merasakannya langsung. Ketika kami mencoba merekrut pemain kelas atas, kami ternyata tidak berada di pasar yang sama dengan klub besar lainnya."
Postecoglou mengungkapkan bahwa pada musim panas 2024, ia mengajukan daftar belanja berisi nama-nama matang seperti Pedro Neto, Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guehi.
Namun, alih-alih mendatangkan pemain siap pakai tersebut, klub justru hanya mendatangkan tiga pemain remaja dan Dominic Solanke.
“Saya berpikir: ‘Bagaimana caranya kita bisa naik dari posisi kelima menjadi tim yang benar-benar kompetitif?’ Nah, kami harus merekrut pemain yang siap bermain di Premier League. Tetapi finis di posisi kelima tahun itu tidak membawa kami ke Liga Champions dan kami tidak punya cukup uang, jadi akhirnya kami merekrut Dom Solanke, yang sangat saya sukai, dan tiga pemain remaja,” jelasnya.
“Saya sedang mempertimbangkan Pedro Neto, Bryan Mbeumo, Antoine Semenyo, dan Marc Guéhi. Karena saya katakan, jika kita ingin naik dari posisi kelima ke atas… itulah yang akan dilakukan klub-klub besar lainnya. Ketiga pemain remaja itu adalah pemain muda yang luar biasa dan mereka akan menjadi pemain hebat untuk Tottenham, tetapi mereka tidak akan membawa kita dari posisi kelima ke ketiga dan keempat.”
Antitesis dari Motto "To Dare Is To Do"
Lebih jauh lagi, Postecoglou menyoroti kontradiksi antara motto klub, To Dare Is To Do (Berani adalah Melakukan), dengan ketakutan internal untuk mengambil risiko finansial.
Ia menyebut adanya budaya "Spursy", istilah ejekan untuk kegagalan di saat krusial, yang masih mendarah daging karena kurangnya keyakinan dari dalam klub.
“Saat Anda masuk ke Tottenham, yang Anda lihat di mana-mana adalah: ‘To Dare Is To Do’ namun tindakan mereka hampir merupakan antitesis dari itu. Saya rasa mereka tidak menyadari bahwa, untuk benar-benar menang, Anda harus mengambil beberapa risiko di beberapa titik. Saya merasa Tottenham sebagai klub mengatakan: ‘Kami adalah salah satu tim besar.’ Dan kenyataannya, saya rasa mereka bukan,” tegas pelatih asal Australia ini.
“Ketika Arsenal membutuhkan pemain, mereka akan menghabiskan £100 juta untuk Declan Rice. Saya tidak melihat Tottenham melakukan itu. Tapi bukan biaya transfernya. Yang penting adalah gaji untuk benar-benar menarik… Maksud saya, kapan terakhir kali Tottenham benar-benar merekrut seseorang yang membuat Anda berkata: Wow?”
Baca juga: Mikel Arteta Beri Penghormatan untuk Thomas Frank Usai Pemecatan di Tottenham
Situasi Aneh Setelah Kepergian Daniel Levy
Postecoglou juga menyebut Tottenham sebagai klub yang aneh karena melakukan perubahan arah yang drastis secara terus-menerus. Musim 2025-26 ini dianggap sebagai masa transisi yang kacau, terutama dengan mundurnya sosok paling berpengaruh, Daniel Levy, dari jabatan pimpinan klub.
Menurut Ange, pemecatan Thomas Frank adalah konsekuensi dari ketidakjelasan visi klub. “Anda tahu bahwa dia tidak mungkin satu-satunya masalah di klub,” ucap Postecoglou. “Tottenham adalah klub yang aneh."
“Mereka melakukan perubahan besar di akhir tahun lalu, bukan hanya dengan kepergian saya tetapi juga dengan kepergian Daniel, dan Anda telah menciptakan lingkungan ketidakpastian. Tidak ada jaminan manajer mana pun yang Anda datangkan. Mereka pernah memiliki manajer kelas dunia dan mereka belum meraih kesuksesan. Dan untuk alasan apa?”
“Thomas datang dan apa tujuannya, apa tujuan klub? Jika Anda akan melakukan perubahan besar seperti itu, Anda harus memahami bahwa akan ada ketidakstabilan di sana. Apakah Thomas tahu dia akan menghadapi situasi seperti itu? Saya tidak tahu.”