Spalletti Kecewa, Akui Juventus Mundur Tiga Langkah usai Dibekuk Galatasaray
Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, tidak menutup-nutupi kekecewaannya setelah menyaksikan timnya luluh lantak di tangan Galatasaray dengan skor mencolok 5-2 pada laga leg pertama play-off Liga Champions, Rabu dini hari WIB. Dalam evaluasi pascapertandingan yang jujur sekaligus pahit, Spalletti mengakui bahwa performa Bianconeri di RAMS Park bukan sekadar kekalahan biasa, melainkan sebuah kemunduran besar bagi evolusi tim.
Juventus sebenarnya sempat memberikan harapan setelah tertinggal gol cepat Gabriel Sara. Sepasang gol dari Teun Koopmeiners sempat membawa Si Nyonya Tua unggul 2-1 hingga menjelang turun minum. Namun, babak kedua berubah menjadi mimpi buruk bagi wakil Italia tersebut.
Kemunduran dan Kehilangan Karakter Tim
Spalletti tampak sangat terpukul dengan cara timnya hancur di paruh kedua. Kehilangan kendali permainan dan disiplin membuat gawang Michele Di Gregorio diberondong empat gol tambahan oleh tuan rumah.
Kartu merah yang diterima Juan Cabal di menit ke-67 memperparah situasi. Spalletti juga menyentil Andrea Cambiaso yang dianggapnya bermain terlalu berisiko meski sudah mengantongi kartu kuning sejak babak pertama.
“Kami mengakhiri babak pertama dengan buruk, mencoba untuk kembali ke performa terbaik dan mengubah beberapa hal, tetapi kami benar-benar kehilangan karakter,” kata Spalletti kepada Sky Sport Italia.
Baca juga: Juventus Kalah Telak 2-5 di Kandang Galatasaray
“Ini bukan satu langkah mundur, tetapi tiga langkah mundur malam ini. Jelas, Cambiaso mengambil risiko kartu kuning kedua di akhir babak pertama, dalam pertandingan seperti ini ketika Anda memiliki seseorang yang sudah mendapat kartu kuning, bijaksana untuk melakukan pergantian pemain.”
“Namun, kami menerima dua kartu kuning lagi dalam 15 menit pertama, kemudian kami semakin merugikan diri sendiri dengan tidak mengenali bahaya dalam situasi tersebut.”
“Terlepas dari kartu-kartu yang didapatkan, seluruh tim mengalami kemunduran dalam berbagai hal hari ini.”
Rapuhnya Pertahanan Juventus
Secara historis, Juventus dikenal dengan organisasi pertahanan yang sangat solid. Namun, di bawah asuhan Spalletti malam ini, tembok Turin tersebut tampak keropos.
Pelatih berusia 66 tahun itu memperingatkan bahwa selama timnya tidak mampu menjaga struktur, mereka akan terus menjadi sasaran empuk lawan.
“Saya yakin kita bisa meringankan beban pertahanan jika kita mampu bermain sepak bola. Jika kita membangun barikade dan melakukan serangan balik, kita tidak memiliki pemain yang cocok untuk pendekatan seperti itu, kita tidak memiliki pemain yang cukup solid untuk tidak membiarkan apa pun masuk,” ujar Spalletti.
“Jadi saya percaya menyerang adalah bentuk pertahanan terbaik, mengambil inisiatif. Jika kita turun di bawah standar kualitas kita, maka kita selalu berisiko kebobolan gol.”
Baca juga: Montella Kunjungi Markas Juve, Sebut Kenan Yildiz Mirip Del Piero
Misi Mustahil di Turin?
Dengan defisit tiga gol, Juventus kini berada di ujung tanduk. Mereka diwajibkan menang dengan selisih minimal empat gol (atau tiga gol untuk memaksakan perpanjangan waktu) pada leg kedua di Allianz Stadium pekan depan jika ingin melaju ke babak 16 besar.
“Tentu saja kami akan mencoba mendaki gunung itu, mencoba mengatur kebangkitan. Jelas, kami harus bertanggung jawab atas apa yang terjadi dan atas keputusan yang kami ambil selama pertandingan,” tegas Spalletti.
“Mulai sekarang, tidak ada gunanya banyak bicara jika kita tidak mendukungnya dengan tindakan. Kami melakukan beberapa hal dengan baik baru-baru ini, tetapi selalu berhasil menciptakan masalah bagi diri kami sendiri juga.”
“Dalam hal mengenali situasi tertentu, kami memang belum berada di puncak, dan hari ini berhasil memperburuknya. Kartu merah menambah kesulitan, tetapi kami tetap harus merespons dan melakukan tugas kami kepada sekelompok penggemar, seluruh kota, dan klub.”