Pelatih Juventus, Luciano Spalletti, akhirnya buka suara terkait atmosfer panas yang sempat menyelimuti Allianz Stadium saat Si Nyonya Tua menumbangkan Benfica 2-0 di ajang Liga Champions, Kamis (22/1/2026) dini hari WIB.

Meskipun dua gol dari Khephren Thuram dan Weston McKennie memastikan tiga poin krusial, laga tersebut diwarnai momen adu mulut antara Spalletti dengan salah satu pendukung di tribun. Insiden ini terjadi di tengah rasa frustrasi suporter akibat sulitnya Juventus membongkar pertahanan gerendel Benfica asuhan Jose Mourinho.

"Hanya Punya Lima Pergantian"

Ketegangan memuncak di babak pertama ketika seorang fans terdengar meneriakkan protes terkait pilihan pemain dan lambatnya ritme permainan. Spalletti, yang dikenal ekspresif di pinggir lapangan, tertangkap kamera membalas komentar tersebut.

Ia menjelaskan bahwa ketegangan tersebut adalah hal yang wajar di klub sebesar Juventus, terutama saat hasil yang diinginkan tidak kunjung datang dengan cepat. 

Baca juga: Juventus Jinakkan Benfica dengan Kemenangan 2-0

“Untuk klarifikasi, saya hanya merespons sekali. Sejak menit pertama, setiap kali ada yang salah mengontrol bola, saya langsung berteriak: ‘Spalletti, ganti dia, Spalletti ganti dia’,” kata Spalletti.

“Itu terus berlanjut sepanjang pertandingan. Saya bilang kepadanya, ‘Dengar, saya hanya punya lima pergantian pemain. Akan sulit jika terus seperti ini, saya tidak bisa mengganti semuanya’. Saya berbalik dan mengatakan kepadanya bahwa saya tidak bisa mengganti semuanya. Semuanya sangat normal, tanpa melewati batas.”

Evaluasi Spalletti

Meskipun mengantongi kemenangan krusial, mantan pelatih Timnas Italia itu tidak menutup mata terhadap kekurangan skuadnya. Spalletti menyoroti penurunan konsentrasi yang membuat Juventus hampir kehilangan kendali di awal babak kedua. 

Ia menekankan bahwa aspek utama yang harus segera diperbaiki adalah kesiagaan mental para pemain, atau yang ia istilahkan dengan 'radar' tim. Ia menilai para pemainnya seringkali terlambat mengantisipasi transisi lawan dan terlalu mudah kehilangan penguasaan bola karena terburu-buru dalam mengambil keputusan.

“Saya berharap melihat reaksi yang lebih cepat, prediksi yang lebih cepat kapan lawan akan membalas, karena keganasan itu adalah bagian tak terpisahkan dari sepak bola modern saat ini,” tambahnya.

“Kita harus selalu waspada, sebaliknya kita terlalu sering kehilangan bola karena terlalu terburu-buru, kita membuat bola ‘terbatuk-batuk’ dengan umpan-umpan kita yang tersendat-sendat.”

“Benfica mencoba menyerang kita, ini adalah hal-hal yang harus kita biasakan jika kita ingin bermain di level tertentu, meskipun harus saya akui saya telah melihat peningkatan yang nyata.”

Selain ketegangan dengan fans, laga ini juga diwarnai insiden unik saat Spalletti terlihat memberikan 'tamparan' sayang kepada Lois Openda di pinggir lapangan. 

Baca juga: Spalletti Membumi, Sebut Juventus Belum Selevel Inter dan Napoli

Kemenangan ini memang memastikan tiket ke fase gugur bagi Juventus dan membawa mereka ke peringkat 15 klasemen dengan 12 poin. 

Namun, ambisi Spalletti lebih besar dari sekadar lolos; ia mengincar posisi delapan besar agar bisa melaju otomatis ke babak 16 besar tanpa melalui babak play-off. Fokus kini segera dialihkan kembali ke Serie A sebelum menjalani laga hidup mati di markas AS Monaco pada laga terakhir pekan depan, di mana konsistensi selama 90 menit penuh akan menjadi kunci utama.

Buat kamu yang gak mau ketinggalan berita-berita menarik serta trivia unik seputar olahraga dari mulai sepak bola, basket, hingga MotoGP, yuk gabung channel Whatsapp official Yuk Sports DI SINI!